Tell me why, why do you turn the blues skies cloudy grey
You know why I can’t let you keep treatin’ me this way
You’ve been chuckin’ me around but uhh, I kept my eyes shut, yeah
‘Cause your shape is like an hourglass but I think the time’s up
- adorable Mayer Hawtorne
Aku jadi inget ketika zaman kuliah dulu, pernah ngambil kelas yang dosennya killer banget.
Kalo masuk kelas dia, hampir seluruh anak pada males. Suasana di kelas dosen ini sungguh tidak menyenangkan, ketika masuk kedalam kelas suasana horror macam kuburan. Lalu, dilanjutkan dengan pertanyaan dari nya yang sulit, dan kami tidak bisa menjawab setelah itu dia memarahi kami.
Kelas dia ada pada hari rabu siang, ketika masuk ke kelasnya ak selalu meyakini bahwa lambat laun aku akan menyelesaikan mata kuliah ini, hanya perlu menunggu waktu 4 bulan.
Menjalani kelasnya sangat tidak menyenangkan sekali. Tapi apa boleh buat dialah dosen yang mengajar mata kuliah tersebut. Andai ada pilihan lain selain dosen itu.
Tapi aku sudah lulus saat ini, aku berhasil melewati kelas itu dengan nilai B (tidak ada yg mendapat A).
Kadang kita merasa tertekan dalam hidup ini, berada dalam satu lingkup hal yang tidak kita sukai. Lalu akan muncul kata ‘seandainya’ , seandainya ak ngak ngampil mata kuliah itu, seandainya ak tidak bekerja disitu.
Sebenarnya aku sangat menghindari kata seandainya. Menurutku itu kata paling useless, sudah kejadian kenapa masih disesali.
Sama seperti perjuanganku menghadapi kelas dosen killer, ngak mungkin memutar waktu toh mau ga mau tetap harus mengambil kelas dia. Pilihannya ada dua pasrah atau berjuang dalam menghadapi rintangan yang ada ( sesuai dgn kemampuan).
Seandainya lingkungan itu tidak nyaman, padahal sudah terus mencoba..
pikirkan, are you deserve to be here?